Public relations (PR) bukan merupakan kegiatan komunikasi
biasa, yang hanya berkisar melaksanakan kegiatan rutin. PR melakukan komunikasi yang berhubungan dengan
strategi, yakni mengamankan arah dan tujuan
perusahaan atau organisasi, tetap menuju sasarannya. Dalam perkembangannya banyak
kemungkinan yang dapat memberhentikan perjalanan atau bahkan memutar balikan
arah perusahaan pada lain sasaran, baik yang ditimbulkan berasal dari
lingkungan dalam maupun dari luar perusahaan. Sebelum berbagai pihak itu
mengambil langkah menuju pada arah yang merugikan perusahaan atau organisasi, PR perlu mengambil tindakan yang dapat mengamankannya.
Langkah yang harus dikerjakan
PR adalah menjaga agar citranya tetap baik dan pihak-pihak yang berkepentingan
tidak mengubah sikap. Dalam hal ini PR perlu melibatkan diri dalam perumusan rencana strategis dan
memahami posisi keberadaan perusahaan. Penting bagi seorang PR untuk memahami konflik diantara pihak-pihak dalam
perusahaan dan rencana yang dimiliki setiap bagian dalam organisasi atau
perusahaan. Selain itu juga PR sangat perlu mempelajari dan memahami seberapa
besar sumber daya yang nyata dan potensial yang dimiliki organisasi ataupun perusahaan. PR ikut
serta membentuk arah perusahaan dengan cara memberikan pandangannya tentang
kemajuan masa depan dan perkembangan opini dari masyarakat. Dalam menjalankan
tugas dan fungsinya, penting bagi PR untuk memahami sikap dan perilaku publik dengan mempelajari dan
memahami latar belakang dari sikap tersebut.
Dengan mengidentifikasi siapa
publiknya, apa bentuk dan segmentasi publik, peran PR akan menjadi lebih efektif. Identifikasi tersebut
dapat memberikan petunjuk, publik mana saja yang dapat dirasakan aktif dan
pasif. Dengan memahaminya PR akan dapat mengarahkan kegiatan komunikasinya.
Empat bentuk
pendekatan yang dapat digunakan yakni :
1.
Reaktif
(segera ingin merubah)
2.
Akomodatif
(mengubah secara perlahan)
3.
Proaktif
(mengubah secara teratur dan terencana)
4.
Interaktif
(menyesuaikan diri dan proaktif)
Dengan menerapkan konsep
segmentasi, praktisi PR akan lebih memiliki pemahaman atas pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan. Konsep segmentasi memberikan
penjelasan atas keseluruhan massa yang pada prinsipnya mengandung bagian
yang
paling penting bagi pelaksanaan program PR (Rhenald Kasali, 1994:55).
Mengambil tindakan dalam PR
Posisi PR dalam suatu organisasi seperti instansi, perusahaan maupun lembaga, secara
garis besar PR memiliki tempat yang sangat strategis, yakni berada iantara dua pihak
publik, baik publik internal maupun publik eksternal. Hal demikian menandakan
bahwa seorang PR berdasarkan fungsinya adalah sebagai juru bicara atau orang yang mewakili
perusahaan atau organisasi, khususnya dalam hal mengadakan hubungan timbal
balik dengan publik yang berada di dalam dan pada umumnya publik yang berada
diluar organisasi atau perusahaan.
PR officer bukan hanya
bertugas sebagai penyampai informasi manajemen perusahaan kepada publiknya
melainkan juga merupakan saluran informasi dari publik kepada perusahaan atau
organisasi. Informasi yang datang dari publik itu merupakan opini publik
sebagai feedback atas informasi
yang disalurkan dari organisasi atau perusahaan.
Berdasarkan
kedudukan PR yang
sangat strategis, maka seorang PR harus memiliki kepekaan terhadap kedua kepentingan publik,
baik dalam lingkungan internal yakni antara pimpinan dan karyawan, sedangkan
publik eksternal yaitu antara perusahaan dengan publik yang berada diluar
perusahaan.
Seorang PR dalam menjalankan
fungsi utama, yang tidak saja hanya sebagai mediator keluar perusahaan,
melainkan harus pula memanfaatkan dengan panca indranya yakni, pendengaran,
penciuman, penglihatan dan perasaan yang berhubungan dengan opini publik yang
muncul ditujukan untuk kepentingan organisasi atau perusahaan. Oleh karena itu PR harus dapat mendengar,
melihat, merasa, mencium apa yang sedang terjadi dikalangan publik setelah
mereka menerima informasi tentang kebijakan-kebijakan perusahaan atau
organisasi yang disampaikan.
Seorang PR harus dapat melihat
bahkan merasakan sendiri akibat-akibat dari pada kebijakan perusahaan atau
organisasi yang timbul ditengah-tengah publik yang memiliki kepentingan dengan
perusahaannya. Seorang manager public
relations secara spesifik harus dapat menentukan seluruh kegiatan
komunikasi manajemen perusahaan, sedangkan pimpinan utama perusahaan merupakan
pemikir yang dapat menentukan semua arah dan gerak dari perusahaan atau
organisasi dan juga menentukan tujuan dari gerak itu sendiri.
Pimpinan
perusahaan dan PR memiliki hubungan yang harmonis dalam mengerakan roda perusahaan. Pimpinan
sebagai pemegang kebijakan sedangkan PR sebagai penterjemah dari pada kebijakan, demikian pula dalam hal
menanggapi akibat dari policy yang
timbul ditengah-tengah publiknya. Dengan demikian PR dapat dideskripsikan sebagai penyambung lidah
perusahaan atau organisasi dapat pula dikatakan sebagai jembatan penghubung
diantara dua macam publik, baik publik internal maupun publik eksternal.
Jembatan penghubung yang dapat menterjemahkan bahasa pimpinan menjadi bahasa
publik.
Dilihat
dari kedudukan PR bahwa
secara idealnya posisi PR secara organisatoris jelas harus berada sedekat mungkin dengan pimpinan utama
dan di atas bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Kedudukan tersebut dapat
diartikan sebagai fungsi menurut hirarki kerja dalam kaitannya dengan aspek
komunikasi sebagai unsur yang ada dalam perusahaan sesuai dengan peran dan
fungsinya PR dalam
konteks yang ideal dalam suatu perusahaan atau perusahaan atau organisasi,
menduduki tempat sebagai konsultan perusahaan atau organisasi khususnya
konsultan dalam hal kegiatan komunikasi manajemen perusahaan. Untuk memerankan
fungsinya PR harus
mampu sebagai orang yang memiliki kedudukan ditengah-tengah misi manajemen dan
publik (internal dan eksternal publik). Pada perusahaan-perusahaan yang kecil,
biasanya tugas PR dipegang langsung oleh pimpinan sendiri, seperti perusahaan kontraktor dan
advertising.
Menerapkan komunikasi public
relations
Pola
komunikasi PR dalam
suatu organisasi pada prinsipnya adalah bahwa setiap bagian harus melakukan
komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan. Setiap bentuk
organisasi, pendekatan dalam melakukan kegiatan komunikasi yang dipakai antara
satu organisasi dengan organisasi lain yang memiliki variasi yang sangat
berbeda. Untuk setiap karakter organisasi, misalnya dalam bentuk suatu
perusahaan sangatlah tergantung pada skala besar kecilnya perusahaan tersebut.
Jika bentuk perusahaan hanya memiliki beberapa orang karyawan, maka penyampaian
informasi kepada mereka merupakan suatu pekerjaan yang mungkin sangat kompleks
dan memerlukan kemampuan sumber daya manusia untuk dapat membuat konsep dalam
menentukan jaringan komunikasi yang efektif dan efisien dilingkungan
perusahaann.
Untuk
menciptakan pola komunikasi yang efisien dan efektif dalam suatu organisasi
secara umum kegiatan public relations
dapat berupa untuk mengatur aktivitas komunikasi manajemen melalui pola
komunikasi yang dapat dikelompokkan menjadi internal
communication dan eksternal
communication baik itu dalam konteks saluran komunikasi formal maupun
informal.
Deskripsi
mengenai pola komunikasi PR secara internal melalui konteks saluran formal maupun informal adalah :
Komunikasi
internal (internal communication)
Lingkup
komunikasi organisasi dalam aktivitas PR selalu berkaitan dengan masalah manajemen organisasi suatu
perusahaan. Rosenblatt et.all (1982:5) menyatakan bahwa komunikasi organisasi
dalam kegiatan public relations
selalu meliputi dua ruang lingkup kegiatan yaitu internal communication dan external
communication, komunikasi yang terjadi di dalam ruang lingkup organisasi
atau perusahaan dan komunikasi dengan orang-orang yang berada diluar lingkup
perusahaan.
Proses
penyampaian informasi melalui saluran formal dalam konteks komunikasi internal
dilakukan pada saat kondisi kerja, yang dapat dilakukan dari pimpinan kepada
bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan atau antar karyawan dalam level yang
sama.
Himstreet and Baty (1987:36) menyatakan bahwa : “The flow of communication within the organization may be up ward, down
or horizontally directed”.
Dalam hal ini alur komunikasi organisasi
meliputi tiga hal yakni :
- Komunikasi
dari atas kebawah
- Komunikasi
dari bawah ke atas
- Komunikasi
horizontal
Berkaitan
dengan ketiga alur komunikasi organisasi tersebut Pace (1983:39) memberikan
tambahan satu alur komunikasi yaitu komunikasi cross-channel communication atau komunikasi diagonal (silang)
seperti yang dituangkan dalam pernyataan sebagai berikut : “in organizational communication we talk about information that proceed
formally from a person of higher authority to one of lower authority – down
ward communication; information that proceeds from a position of lower
authority to one of higher authority – up ward communication; information that
moves along a people and positions of approximately the same level of authority
– horizontal communication; or information that moves among people and
positions that are neither superior non subondinate to one another and that are
indifferent functional department – cross – channel communication”.
Pola
komunikasi dalam organisasi dalam public
relations sebagai berikut :
- Alur
komunikasi vertikal dari atas kebawah (down
ward communication)
- Alur
komunikasi vertikal dari bawah ke atas (up
ward communication)
- Alur komunikasi horizontal atau
komunikasi silang (diagonal communication
/ cross – channel communication)
)
Komunikasi dari atas ke bawah (down
ward communication)
Himstreet
and Baty (1987:36) menyatakan bahwa : “Down
ward communication is that from superior to subardinate from boss to employee,
and from policy makers to operating personel one study has identified or
distinguished five elements in down ward communication.
- Job instruction. Teacking new or current employees
how to do a particular taks.
- Rational. The justification for the
organization its into the total organization.Information.
- Orientation to the company – its
rules practices, procedures, and history
- Feed back a bout job performance. Supervisor’s evalution or
appraisal of employee performance
- Ideology. The effort to convey to and instill
in employees a degree of enthusiasm loyalty, or support for the organization.
Dari
pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi dalam down ward communication, komunikasi
berlangsung dari tingkatan yang lebih tinggi yaitu manajemen puncak peada
tingkatan yang lebih rendah atau dari pembuat kebijaksanaan sampai pada akhirnya
pada karyawan sebagai tingkat operasional. Dengan
demikian down ward communication
adalah komunikasi yang dilakukan dari atasan kepada bawahan dalam arti
komunikasi ke bawah mengalir dari tingkatan manajemen yang lebih tinggi kepada
manajemen menengah terus kepada manajemen yang paling bawah dan akhirnya sampai
pada karyawan operasional.
Fungsi
komunikasi dari atas ke bawah adalah untuk memberikan pengertian mengenai
sesuatu, misalnya bentuk.
- Perintah/instruksi
- Pengarahan
berkaitan dengan tujuan organisasi
- Pemberian
informasi
- Penilaian
pimpinan terhadap hasil pekerjaan
- Penerapan
kebijakan
Selain komunikasi dari atas ke bawah dapat digambarkan hal-hal yang
meliputi:
- Pemberian
penghargaan
- Memberikan
teguran dalam pelaksanaan tugas bagi karyawan yang kurang taat pada perintah
- Memberikan
arahan dan bimbingan pada karyawan
Komunikasi dari bawah ke atas (up
ward communication)
Himstreet
and baty (1987:37) menyatakan bahwa : up
ward communication is feedback to down ward communication. When management
request information from lower organizational levels. The resulting information
becomes feedback to that request. Employees, their work and method of doing it
and their perception of the organization.
Dari
pernyataan yang dimaksud dapat digambarkan bahwa aliran komunikasi dari bawah
ke atas adalah merupakan kebalikan dari komunikasi dari atas ke bawah yaitu
komunikasi yang diawali dari wewenang yang lebih rendah pada wewenang yang
lebih tinggi. Dengan demikian ketika pimpinan perusahaan meminta informasi dari
bawahan atau pada saat pimpinan mendapatkan feedback
dari bawahan yang berkaitan dengan segala hal yang berhubungan dengan
organisasi.pabila
para karyawan menyatakan sesuatu pada atasan mengenai permasalahan yang sedang
dirasakan karyawan yang berkaitan dengan tugas dan metode-metode yang harus
dijalankan serta persepsi mereka mengenai organisasi.
Empat
faktor terpenting menurut Himstreet dan Baty (1987:38) yang harus diperhatikan
dalam komunikasi dari bawah ke atas yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut
:
- Up ward communication is primarily
feedback to request and actions of superiors
- Subordinates often tell the superior
what they think the superior wants to hear even though their messages might
contradict their true observations and perceptions
- Up ward communication is based on
trust in the superior
- Up ward communication is fequently a
threat to the subardinate
Komunikasi
yang dilakukan bawahan pada atasan dalam rangka memberikan pengertian mengenai
sesuatu untuk - diketahui dan dijadikan bahan pertimbangan pimpinan - pada umumnya,
namun pada kenyataannya komunikasi dari bawah ke atasan sering kali tersendat sehubungan dengan karakternya. Komunikasi dari bawahan sering dianggap sebagai
komunikasi yang bersifat: permohonan, kritikan, usulan dan tuntutan.
Sebagaimana
yang dikatakan Himstreet dan Baty, bahwa komunikasi dari bawah ke atas lebih mengutamakan
feedback dari bawahan berkaitan
dengan permohonan dan tindakan/perilaku pimpinan. Umumnya pernyataan seorang
bawahan adalah berkaitan dengan apa yang dipikirkan dan yang diinginkan
atasannya untuk selalu didengar bawahan walaupun pesan dari atasan tersebut
seringkali bertentangan dengan kenyataan yang diobservasi atau dipersepsi
bawahan.
Komunikasi
dari bawah ke atas sebagai dasar bagi kepercayaan atasan/pimpinan. Komunikasi
dari bawah ke atas seringkali menjadi ancaman bagi seorang bawahan yang mungkin
seringkali suara bawahan yang ditujukan bagi atasan agak tersendat. Pada
prinsipnya fungsi komunikasi dari bawah ke atas adalah untuk memberikan
pengertian mengenai sesuatu, misalnya: permohonan bantuan, kritikan laporan,
prestasi kerja (performance report),
saran, usulan anggaran, keluhan, opini yang merupakan sebagai bahan penentuan
kebijakan dalam rangka kepemimpinan pada umumnya. Hal tersebut juga dimaksudkan
untuk memperoleh informasi dari bawahan yang berkaitan dengan kegiatan dan
pelaksanaan pekerjaan karyawan dari tingkat yang paling bawah ketingkat yang
lebih tinggi.
Komunikasi
dari bawah ke atas dapat dimanfaatkan dalam memecahkan segala permasalahan yang
terjadi dalam suatu perusahaan, sehingga upaya-upaya pimpinan sebagai pengambil
keputusan secara tepat dapat dilakukan dengan baik. Dalam hal ini sudah
sepantasnya bila pimpinan memperhatikan aspirasi yang tumbuh dan berkembang
dari bawah. Dengan istilah lain partisipasi yang datangnya dari bawah dalam
proses pengambilan keputusan akan sangat membantu dalam pencapaian tujuan
organisasi.
Dalam
rangka upaya untuk dapat mencapai tingkat keberhasilan komunikasi dari bawah ke
atas, para pimpinan harus memiliki rasa percaya terhadap bawahan, andaikan
tidak mempercayai sebaiknya informasi apapun dari bawahan tidak akan bermanfaat
baginya, karena yang muncul hanyalah rasa curiga atau ketidak percayaan
terhadap informasi tersebut.
Komunikasi
dari atas ke bawah memiliki beberapa kelemahan yaitu
- kemungkinan bawahan hanya menyampaikan informasi
(laporan) yang terbaik saja, sedangkan informasi yang agaknya mempunyai kesan
negatif atau tidak disenangi pihak manajer cenderung disimpan atau tidak
disampaikan, kecenderungan ini secara psikologis bawahan mempunyai rasa takut
atau segan seandainya atasan tidak menyenangi dan akan menimbulkan konsekuensi
yang berakibat tidak baik bagi dirinya.
- Informasi tentang ketidakberesan dikhawatirkan memberikan arti bahwa kinerja atau prestasi kerja
yang berkaitan dengan bidang pekerjaan tersebut buruk.
- Seorang
bawahan umumnya tidak berkeinginan bahwa prestasi kerjanya akan terganggu dan dinilai
kurang baik atau tidak berhasil, sehingga lebih baik mereka akan memilih tidak
akan melaporkan kegagalan tersebut sama sekali.
Faktor penyebab inilah yang
akan selalu dirasakan pihak karyawan atau bawahan pada umumnya hanya melaporkan
hal yang baik-baik saja, sehingga mereka dapat menjaga atau menyelamatkan
posisi dan kedudukannya sehingga merasa aman dan nyaman.
Komunikasi horisontal (horizontal
or lateral communication)
Himstreet
dan Baty (1987:38) menyatakan bahwa : “Horizontal
or lateral communication is oftne used to decribe exchanges between
organizational units on the same hierarchical level”.
Komunikasi
horisontal dapat terjadi antara dua pihak yang berada pada level yang sama,
biasanya komunikasi yang dilakukan dalam bentuk koordinasi seperti level kepala
seksi, antara karyawan, antara manajer departemen. Komunikasi horisontal adalah
komunikasi yang terjadi antara bagian-bagian yang memiliki posisi sejajar dalam
suatu organisasi.
Tujuan
komunikasi horisontal antara lain untuk melakukan persuasi, mempengaruhi,
memberikan informasi kepada bagian/departemen yang mempunyai kedudukan sama
dalam organisasi. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa:
- Memo
antar kepala bagian
- Rapat
antar kepala seksi
- Konferensi
antar manajer
- Interaksi
antar karyawan
Komunikasi
horisontal dapat dilakukan secara formal dan informal. Dalam segi
operasionalnya lebih sering dilakukan komunikasi secara informasi, sebab mereka
dalam taraf yang sejajar sehingga lebih secara terbuka dalam mengemukakan
masalah tentang pendapatnya, umumnya komunikasi berlangsung lebih bersifat
koordinasi.
Komunikasi diagonal/silang (cross
– channel communication)Komunikasi
yang melibatkan antara dua posisi dalam struktur organisasi yang berbeda dan
tidak mempunyai garis perintah dapat melakukan kegiatan komunikasi. Contoh
komunikasi yang dilakukan antara manajer pemasaran dengan bagian pabrik,
kerjasama bagian produksi dengan promosi.
DAFTAR PUSTAKA
Kasali
Rhenald. 1994. Manajemen Public Relations
Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta.
Pace R.
Wayne. 1983. Organizational Communication
Foundations for Human Resource Development. Prentice Hall. Inc. New Jersey.
Rosenblatt
S, Bernard. T. Richard Cheatham. James T. Watt. 1982. Communication in Business. Second
Edition. Prentice Hall Inc. Engle Wood Cliffs. New Jersey.
Yulianita,
Neni. 2005. Dasar-dasar Humas. Pusat
Penerbitan Universitas (P2U) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat Universitas Islam Bandung (LPPM UNISBA).