Friday, February 17, 2012

Pengertian tentang Ilmu dan Teori dalam Komunikasi

Definisi ilmu
”Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum” (Nazir, 1988).

”Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal: adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi, dan dapat disistematisasi” (Shapere, 1974).

”Pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif, dan konsistensi dengan realitas sosial” (Alfred Schutz,1962).

”Ilmu tidak hanya merupakan suatu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tapi juga merupakan suatu metodologi” (Tan,1954).

Dari empat definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal, baik yang menyangkut alam (natural) atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berpikir. Pengertian ilmu dalam dunia ilmiah menuntut tiga ciri:
Pertama, ilmu harus merupakan suatu pengetahuan yang didasarkan pada logika.
Kedua, ilmu harus terorganisasikan secara sistematik.
Ketiga, ilmu harus berlaku umum.


Pengertian Ilmu Komunikasi
Berger dan Chaffee dalam buku "Handbook of Communication Science" (1987). Menurut Berger dan Chaffee, ilmu komunikasi adalah ”suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang”.

Pengertian ilmu komunikasi yang dijelaskan oleh Berger dan Cheffee tersebut memberikan 3 pokok pikiran.
Pertama, objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.
Kedua, ilmu komunikasi bersifat ”ilmiah-empiris” (scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.
Ketiga, ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh bagi sistem-sistem tanda dan lambang.

Berdasarkan definisi dari Berger dan Chaffee serta uraian-uraian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya tentang ciri-ciri ilmu, dapatlah dikatakan bahwa ”ilmu komunikasi pada dasarnya dalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses dan pengaruhnya yang dilakukan secara rasional dan sistematik, serta kebenarannya dapat diuji dan digenaralisasikan”.


Pengertian Teori dalam Komunikasi
Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung beberapa pengertian sebagai berikut :
  • Teori adalah abstraksi dari realitas
  • Teori terdiri dari sekumpulan prinsip-prinsip dan definisi-definisi yang secara konseptual mengorganisasi aspek-aspek dunia empiris secara sistematis.
  • Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan aksioma-aksioma dasar yang saling berkaitan.
  • Teori terdiri dari teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima atau terbukti secara empiris.

Teori "konseptualisasi atau penjelasan logis dan empiris tentang suatu fenomena”

Teori memiliki dua ciri umum.
Pertama, semua teori adalah ”abstraksi” tentang suatu hal. Dengan demikian teori sifatnya terbatas. Teori tentang radio kemungkinan besar tidak dapat dipergunakan untuk menjelaskan hal-hal yang menyangkut televisi.

Kedua, semua teori adalah konstruksi ciptaan individual manusia. Oleh sebab itu sifatnya relatif dalam arti tergantung pada cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek hal yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan di sekitarnya.

Teori komunikasi: "Konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia”. Meliputi: produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia.


Penjelasan dalam Teori dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan nama dan pendefinisian variabel-variabel, tetapi juga mengidentifikasi keberaturan hubungan di antara variabel.
Littlejohn (1987): Penjelasan dalam teori berdasarkan pada "prinsip keperluan" (the principle of necessity), yakni suatu penjelasan yang menerangkan variable-variabel apa yang kemungkinan diperlukan untuk menghasilkan sesuatu. Contoh : untuk menghasilkan x, barangkali diperlukan adanya y dan z.

Littlejohn "Prinsip keperluan"
1. Causal necessity (keperluan kausal)
2. Practical necessity (keperluan praktis), dan
3. Logical necessity (keperluan logis).

Keperluan kausal berdasarkan asas hubungan
sebab-akibat. Umpamanya, karena ada y dan z maka terjadi x. Keperluan praktis menunjuk pada kondisi hubungan tindakan-konsekuensi.
Kalau menurut prinsip keperluan kausal x terjadi karena y dan z, maka menurut prinsip penjelasan keperluan praktis y dan z memang bertujuan untuk, atau praktis akan menghasilkan x. Prinsip yang ketiga ”prinsip keperluan logis) berdasarkan pada azas konsistensi logis. Artinya, y dan z secara konsisten dan logis akan selalu menghasilkan x.


Sifat, Tujuan dan Fungsi Teori
Abraham Kaplan (1964):
Teori bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta tersebut. Suatu teori harus sesuai dengan dunia ciptaan Tuhan, dalam arti dunia yang sesuai dengan ciri yang dimilikinya sendiri. Dengan demikian teori yang baik adalah teori yang sesuai dengan realitas kehidupan. Teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Apabila konsep dan penjelasan teori tidak sesuai dengan realitas, maka keberlakuannya diragukan dan teori demikian tergolong teori semu.

Fungsi Teori menurut Littlejohn:
1. Mengorganisasikan dan menyimpulkan
2. Memfokuskan
3. Menjelaskan
4. Mengamati
5. Membuat prediksi
6. Heuristik
7. Komunikasi
8. Kontrol/mengawasi
9. Generatif

Mengorganisasikan dan menyimpulkan: Dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukannya secara sepotong-potong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan dunia. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan kita tentang pola-pola dan hubungan-hubungan ini kemudian diorganisasikan dan disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.

Memfokuskan: Hal-hal atau aspek-aspek dari suatu objek yang diamati harus jelas fokusnya. Teori pada dasarnya hanya menjelaskan tentang suatu hal, bukan banyak hal.

Menjelaskan: Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Penjelasan ini tidak hanya berguna untuk memahami pola-pola, hubungan-hubungan, tetapi juga untuk mengintreprestasikan peristiwa-peristiwa tertentu.

Pengamatan: Menunjukkan bahwa teori tidak saja menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya. Oleh karena itulah teori yang baik adalah teori yang berisikan konsep-konsep operasional. Konsep operasional ini penting karena bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.

Prediksi: Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercerminkan dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, ”public relations”, dan media massa.

Heuristik atau heurisme: Aksioma umum menyebutkan bahwa teori yang baik adalah teori yang mampu merangsang penelitian. Ini berarti bahwa teori yang diciptakan dapat merangsang timbulnya upaya-upaya penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep-konsep dan penjelasan-penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

Komunikasi: Teori seharusnya tidak menjadi monopoli si penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan, dan terbuka terhadap kritikan-kritikan. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.

Normatif: Asumsi-asumsi teori dapat kemudian berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.

Generatif: Fungsi ini terutama sekali menonjol dikalangan pendukung tradisi/aliran pendekatan interpretatif dan teori kritis. Menurut pandangan aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural, serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.



Pengembangan Teori
Proses pengembangan atau pembentukkan teori umumnya mengikuti model pendekatan eksperimental yang lazim dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Menurut pendekatan ini, biasa disebut ”hypothetic-deductive method” (metode hipotesis-deduktif), proses pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut :
  • Developing questions (mengembangkan pertanyaan)
  • Forming hypothesis (membentuk hipotesis)
  • Testing the hypotheses (menguji hipotesis)
  • Formulating theory (memformulasikan teori)
Proses dari keempat tahap pengembangan teori ini, sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn, adalah sebagai berikut :

  • Asumsi-asumsi teori dideduksi menjadi hipotesis.
  • Hipotesis ini dirinci lagi kedalam konsep-konsep operasional yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk pengamatan atau observasi.
  • Berdasarkan hasil-hasil temuan pengamatan yang dilakukan melalui metode dan pengukuran tertentu kemudian dibuat generalisasi-generalisasi.
  • Dari generalisasi-generalisasi ini akhirnya diinduksi menjadi teori

Patokan/tolak ukur dalam mengevaluasi kesahihan teori.
Pertama adalah ”cakupan teoritis” (theoretical scope). Yang jadi persoalan pokok disini adalah apakah suatu teori yang dibangun memiliki prinsip ”generality” atau keberlakuan umum.
Kedua adalah ”kesesuaian” (appropriateness), yakni apakah isi teori sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan-permasalahan teoritis yang diteliti.
Ketiga adalah ”Heuristic”. Yang dipertanyakan adalah apakah suatu teori yang dibentuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan.
Keempat adalah validitas atau konsistensi internal dan eksternal. Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten dengan pengamatan. Sementara itu, konsistensi eksternal mempertanyakan apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori-teori lainnya yang telah ada.
Kelima adalah kesederhanaan. Inti pemikirannya adalah bahwa teori yang baik adalah teori yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana.


Komponen Konseptual dan Jenis-jenis Teori Komunikasi
Ilmu pengetahuan sosial bersifat multidisipliner, definisi-definisi mengenai komunikasi yang diberikan para ahli pun sangat beragam. Masing-masing punya penekanan arti, cakupan, dan konteksnya yang berbeda satu sama lainnya. Frank E.X. Dance (1976), seorang sarjana Amerika yang menekuni bidang komunikasi, menginventarisasi 126 definisi komunikasi yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Dari definisi-definisi ini ia menemukan adanya 15 komponen konseptual pokok. Berikut adalah gambaran mengenai kelima belas komponen tersebut disertai dengan contoh-contoh definisinya :

1. Simbol-simbol/verbal/ujaran
”Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal” (Hoben,1954).

2. Pengertian atau pemahaman
”Komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku”, (Anderson, 1959).

3. Interaksi/hubungan/proses sosial
”Interaksi, juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi” (Mead,1963).

4. Pengurangan rasa ketidakpastian
”Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketikpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego” (Barnlund, 1964).

5. Proses
”Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain” (Berelson dan Steiner, 1964).

6. Pengalihan/penyampaian/pertukaran
”Penggunaan kata komunikasi tampaknya menunjukkan kepada adanya sesuatu yang dialihkan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya. Kata komunikasi kadang-kadang menunjukkan kepada pa yang dialihkan, alat apa yang dipakai sebagai saluran pengalihan atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan. Dalam banyak kasus, apa yang dialihkan itu kemudian menjadi milik atau bagian bersama. Oleh karena itu komunikasi juga menuntut adanya partisipasi” (Ayer,1955).

7. Menghubungkan/menggabungkan
”Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dalam kehidupan dengan bagian lainnya” (Ruesch, 1957).

8. Kebersamaan
”Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih” (Gode, 1959).

9. Saluran/alat/jalur
”Komunikasi adalah alat pengiriman pesan-pesan kemiliteran perintah/order dan lain-lain seperti telegraf, telepon, radio, kurir dan lain-lain” (American College Dictionary).

10. Replikasi memori
”Komunikasi adalah proses yang mengarahkan perhatian seseorang dengan tujuan mereplikasi memori” (Cartier dan Harwood,1953).

11. Tanggapan diskriminatif
”Komunikasi adalah tanggapan diskriminatif dari suatu organisme terhadap suatu stimulus” (Stevens,1950).

12. Stimuli
”Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima” (Newcomb,1966)

13. Tujuan/kesengajaan
”Komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima” (Miller, 1966).

14. Waktu/situasi
”Proses komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu keseluruhan struktur situasi ke situasi yang lain sesuai pola yang diinginkan” (Sondel,1956).

15. Kekuasaan/kekuatan
”Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan/kekuasaan”(Schacter,1951).

Kelima belas komponen konseptual tersebut di atas merupakan kerangka acuan yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menganalisis fenomena peristiwa komunikasi. Komponen-komponen tersebut, baik secara tersendiri, secara gabungan (kombinasi dari beberapa komponen) ataupun secara keseluruhan, dapat dijadikan sebagai fokus perhatian dalam penelitian.



Jenis-jenis Teori Komunikasi
Littlejohn (1989), berdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatannya, secara umum teori-teori komunikasi dapat dibagi dalam dua kelompok.
  • Kelompok pertama disebut kelompok ”teori-teori umum” (general theorities)
  • Kelompok kedua adalah kelompok ”teori-teori konseptual” (contextual theorities)

Ada empat jenis teori yang diklasifikasikan masuk ke dalam kelompok teori-teori umum :
  • Teori-teori fungsional dan struktural
  • Teori-teori ”behavioral” dan ”cognitive”
  • Teori-teori konvensional dan interaksional
  • Teori-teori kritis dan interpretif.

Sementara kelompok teori-teori kontekstual terdiri dari teori-teori tentang :
  • Komunikasi antarpribadi
  • Komunikasi kelompok
  • Komunikasi organisasi
  • Komunikasi massa

Teori-teori Umum
1. Teori-teori Fungsional dan Struktural
Ciri dari jenis teori ini (meskipun istilah fungsional dan struktural barangkali tidak tepat) adalah adanya kepercayaan atau pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur yang berada diluar diri pengamat. Menurut pandangan ini, seorang pengamat adalah bagian dari struktur. Oleh karena itu cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur yang berada di luar dirinya.

Meskipun pendekatan fungsional dan struktural ini seringkali dikombinasikan, namun masing-masing mempunyai titik penekanan yang berbeda. Pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial. Pendekatan fungsionalisme yang berasal dari biologi, menekankan pengkajiannya tentang cara-cara mengorganisasikan dan mempertahankan sistem. Apabila ditelaah kedua pendekatan ini sama-sama mempunyai penekannan yang sama yakni tentang sistem sebagai struktur yang berfungsi.

Kedua pendekatan ini juga memiliki beberapa persamaan karakteristik sebagai berikut :

1. Baik pendekatan strukturalisme ataupun pendekatan fungsionalisme, dua-duanya sama-sama lebih mementingkan ”synchrony”(stabilitas dalam kurun waktu tertentu) dari pada ”diachrony” (perubahan dalam kurun waktu tertentu).

2. Kedua pendekatan sama-sama mempunyai kecenderungan memusatkan perhatiannya pada ”akibat-akibat yang tidak diinginkan” (unintended consequences) daripada pada hasil-hasil yang sesuia tujuan. Kalangan strukturalisme tidak mempunyai konsep-konsep ”subjektivitas” dan ”kesadaran”. Bagi mereka yang diamati terutama sekali adalah faktor-faktor yang berada di luar kontrol dan kesadaran manusia.

3. Kedua pendekatan sama-sama punya kepercayaan bahwa realitas itu pada dasarnya objektif dan ”independen” (bebas). Oleh karena itu pengetahuan, menurut pandangan ini, dapat ditemukan melalui metode pengamatan (observasi) empiris yang cermat.

4. Pendekatan strukturalisme dan fungsionalisme juga sama-sama bersifat dualistis, karena kedua-duanya memisahkan bahasa dan lambang dari pemikiran-pemikiran dan objek-objek yang disimbolkan dalam komunikasi. Menurut pandangan ini, dunia ini hadir karena dirinya sendiri sementara bahasa hanyalah alat untuk mempresentasikan apa yang telah ada.

5. Kedua pendekatan juga sama-sama memgang prinsip ”the correspondence theory of truth” (teori kebenaran yang sesuai). Menurut teori ini bahasa harus sesuai dengan realitas. Simbol-simbol harus mempresentasikan sesuatu secara akurat.



2. Teori-teori ”Behavioral” dan ”Cognitive”
Sebagaimana halnya dengan teori-teori strukturalis dan fungsional, teori-teori behavioral dan kognitif juga merupakan gabungan dari dua tradisi yang berbeda. Asumsinya tentang hakikat dan cara menemukan pengetahuan juga sama dengan aliran strukturalis dan fungsional. Perbedaan utama antara aliran behavioral dan kognitif dengan aliran strukturalis dan fungsional hanyalah terletak pada fokus pengamatan serta sejarahnya. Teori-teori strukturalis dan fungsional yang berkembang dari sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya cenderung memusatkan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur sosial dan budaya. Sementara teori-teori behavioral dan kognitif yang berkembang dari psikologi dan ilmu-ilmu pengetahuan behavioralis lainnya, cenderung memusatkan pengamatannya pada diri manusia secara individual. Salah satu konsep pemikirannya yang terkenal adalah tentang model ”S-R” (stimulus-respon) yang menggambarkan proses informasi antara ”stimulus”(rangsangan) dan ”response” (tanggapan.

Teori-teori ”behavioral dan cognitive” juga mengutamakan ”variabel-analytic” (analisis variabel). Analisis ini pada dasarnya merupakan upaya mengidentifikasikan variabel-variabel kognitif yang dianggap penting, serta mencari hubungan korelasi diantara variabel. Analisis ini juga menguraikan tentang cara-cara bagaimana variabel-variabel proses kognitif dan informasi menyebabkan atau menghasilkan tingkah laku tertentu.

Komunikasi, menurut pandangan teori ini, dianggap sebagai manifestasi dari tingkahlaku, proses berpikir, dan fungsi ”bio-neural” dari individu. Oleh karenanya, variabel-variabel penentu yang memegang peranan penting terhadap sarana kognisi seseorang (termasuk bahasa) biasanya berada di luar kontrol dan kesadaran orang tersebut.


3. Teori-teori Konvensional dan Interaksional
Teori-teori ini berpandangan bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan simbol-simbol. Kommunikasi, menurut teori ini, dianggap sebagai alat perekat masyarakat (the glue of society). Kelompok teori ini berkembang dari aliran pendekatan ”interaksionisme simbolis” (smbolic interactionisme) sosiologi dan filsafat bahasa ordiner. Bagi kalangan pendukung teori-teori ini, pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi.

Berbeda dengan teori-teori strukturalis yang memandang struktur sosial sebagai penentu, teori-teori interaksional dan konvensional melihat struktur sosial sebagai p[roduk dari interaksi. Fokus pengamatan teori-teori ini tidak terhadap struktur tetapi tentang bagaimana bahasa dipergunakan untuk membentuk struktur sosial, serta bagaimana bahasa dan simbol-simbol lainnya direproduksi, dipelihara serta diubah dalam penggunaannya. Makna, menurut pandangan kelompok teori ini, tidak merupakan suatu kesatuan objektif yang ditransfer melalui komunikasi, tetapi muncul dari dan diciptakan melalui interaksi. Dengan kata lain, makna merupakan produk dari interaksi.

Menurut teori-teori interaksional dan konvensional, makna pada dasarnya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh melalui interaksi. Oleh karena itu, makna dapat berubah dari waktu ke waktu, dari konteks ke konteks serta dari satu kelompok sosial ke kelompok lainnya. Dengan demikian sifat objektivitas ndari makna adalah relatif dan temporer.


4. Teori-teori Kritis dan Interpretif
Kelompok teori yang keempat adalah kelompok teori-teori kritis dan interpretif. Gagasan-gagasannya banyak berasal dari berbagai tradisi seperti sosiologi interpretif, pemikiran Max Weber, phenomenology dan hermeneutics, Marxisme dan aliran ”Frankfurt school”, serta berbagai pendekatan tekstual seperti teori-teori retorika, ”biblical” dan kesusasteraan. Pendekatan kelompok teori ini terutama sekali populer di negara-negara Eropa.

Meskipun ada beberapa perbedaan di antara teori-teori yang termasuk dalam kelompok ini, namun terdapat dua karakteristik umum. Pertama, penekanan terhadap peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Kedua, makana atau ”meaning” merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai ”meaning centered” atau dasar pemahaman makna. Dengan memahami makna dari suatu pengalaman, seseorang akan menjadi sadar akan kehidupan dirinya. Dalam hal ini bahasa menjadi konsep sentral karena bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia.

Disamping persamaan umum, juga terdapat perbedaan yang mendasar antara teori-teori interpretif dan teori-teori kritis dalam hal pendekatannya. Pendekatan teori interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat preskriptif dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang diamati. Pengamatan (observations) menurut teori interpretif, hanyalah sesuatu yang bersifat tentatif dan relatif. Sementara teori-teori kritis (critical theories) lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan yang absolut, preskriptif dan juga politis sifatnya.



Teori-teori Kontekstual
Berdasarkan konteks atau tingkatan analisisnya, teori-teori komunikasi dapat dibagi dalam lima konteks atau tingkatan sebagai berikut:
  • Intrapersonal comunicattion (komunikasi intra-pribadi
  • Interpersonal comunicattion (komunikasi antar pribadi)
  • Group comunicattion (komunikasi kelompok)
  • Organizational communication (komunikasi organisasi)
  • Mass communication (komunikasi masa)
Intrapersonal comunication adalah proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Yang jadi pusat perhatian di sini adalah bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syaraf dan inderanya. Teori-teori komunikasi intra pribadi umumnya membahas mengenai proses pemahaman, ingatan, dan interprestasi terhadap simbol-simbol yang ditangkap melalui pancaindera.

Interpersonal comunicattion (komunikasi antar pribadi) adalah komunikasi antar perorangan dan bersifat pribadi baik yang terjadi secara langsung (tanpa medium) ataupun tidak langsung (melalui medium). Teori-teori komunikasi antarpribadi umumnya memfokuskan pengamatannya pada bentuk-bentuk dan sifat hubungan, percakan, interaksi, dan karakteristik komunikator.

Group comunicattion (komunikasi kelompok) memfokuskan pembahasannya pada interaksi diantara orang-orang dalam kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Teori-teori antar kelompok antara lain membahas tentang dinamika kelompok, efisiensi dan efektifitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk interaksi, serta pembuatan keputusan.

Organizational communication (komunikasi organisasi) menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal, serta bentuk bentuk komunikasi antar pribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasan teori-teori komunikasi organisasi antara lain menyangkut struktur dab fungsi organisasi, hubungan antar manusia, komunikasi dan proses pengorganisasian, serta kebudayaan organisasi.

Mass communication (komunikasi masa) adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang besar. Proses komunikasi massa melibatkan aspek-aspek komunikasi intra pribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi. Teori-teori komunikasi massa umumnya memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur media, hubungan media dan masyarakat, hubungan antar media dan khalayak, aspek-aspek budaya dari komunikasi massa, serta dampak atau hasil komunikasi massa terhadap individu.***

No comments:

Post a Comment