Friday, February 24, 2012

Komunikasi Verbal dan Nonverbal


Tiga ciri utama yang menandai wujud atau bentuk komunikasi verbal dan nonverbal.
  • Lambang-lambang non-verbal digunakan paling awal sejak kita lahir di dunia ini, sedangkan setelah tumbuh pengetahuan dan kedewasaan kita, barulah bahasa verbal kita pelajari.
  • Komunikasi verbal dinilai kurang universal dibanding komunikasi non-verbal. Bila kita pergi ke luar negeri misalnya dan kita tidak mengerti bahasa yang digunakan oleh masyarakat di negara tersebut, kita bisa menggunakan isyarat-isyarat non-verbal dengan orang-orang yang kita ajak berkomunikasi.
  • Komunikasi verbal merupakan aktivitas yang lebih intelektual dibanding dengan bahasa non-verbal yang lebih merupakan aktivitas emosional. Artinya, bahwa dengan bahasa verbal, sesungguhnya kita mengkomunikasikan gagasan dan konsep-konsep yang abstrak, sementara melalui bahasa nonverbal, kita mengkomunikasikan hal-hal yang berhubungan dengan kepribadian, perasaan dan emosi yang kita miliki.
Definisi
Don Stacks dalam bukunya Introduction to Communication Theory menjelaskan bahwa perhatian untuk mempelaji aspek-aspek dalam komunikasi non-verbal masih sangat kecil, sehingga dari banyak referensi tentang komunikasi antar manusia, kita lebih banyak menemukan batasan mengenai komunikasi verbal. Dicontohkannya Frank E.X Dance dan Carl E. Larson menawarkan lebih dari seratus definisi tentang komunikasi verbal.

Secara sederhana, komunikasi non-verbal dapat didefinisikan sebagai berikut: Non berarti tidak, Verbal bermakna kata-kata (words), sehingga komunikasi non-verbal dimaknai sebgai komunikasi tanpa kata-kata.

Adler dan Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication, batasan yang sederhana tersebut merupakan langkah awal untuk membedakan apa yang disebut dengan vocal communication yaitu tindak komunikasi yang menggunakan mulut dan verbal communication yaitu tindak komunikasi yang menggunakan kata-kata.

Dengan demikian, definisi kerja dari komunikasi non-verbal adalah pesan lisan dan bukan lisan yang dinyatakan melalui alat lain di luar alat kebahasaan (oral and non-oral messages expressed than linguistic means).

Tipe-tipe komunikasi berikut ini :
Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding Human Communication, Second edition, hal. 96
Tabel tipe-tipe komunikasi diatas dapat dibaca sebagai berikut: komunikasi verbal yang termasuk dalam komunikasi vokal adalah bahasa lisan, sedang yang tergolong dalam komuikasi non-vokal adalah bahasa tertulis. Sementara komunikasi non-verbal yang termasuk dalam komunikasi vokal adalah nada suara, desah, jeritan dan kualitas vocal; dan yang termasuk dalam klasifikasi komunikasi non-vokal adalah isyarat, gerakan (tubuh), penampilan (fisik), ekspresi wajah dan sebagainya. Atau kita dapat membaca tabel diatas secara terbalik, diawali dengan komunikasi vokal dan non-vokal terlebih dahulu.

Batasan lain mengenai komunikasi non-verbal dikemukakan oleh beberapa ahli lainnya, yaitu :
  1. Frank E.X. Dance dan Carl E. Larson: Komunikasi non-verbal adalah sebuah stimuli yang tidak bergantung pada isi simbolik untuk memaknainya (a stimulus not dependent on symbolic content for meaning).
  2. Edward Sapir: Komunikasi non-verbal adalah sebuah kode yang luas yang ditulis tidak dimana pun juga, diketahui oleh tidak seorang pun dan dimengerti oleh semua (an elaborate code that is written nowhere, known to none, and understood by all).
  3. Malandro dan Barker yang dikutip dari Ilya Sunarwinadi: komunikasi Antar Budaya memberikan batasan-batasannya sebagai berikut :
  • Komunikasi non-verbal adalah komunikasi tanpa kata-kata
  • Komunikasi non-verbal terjadi bila individu berkomunikasi tanpa menggunakan suara
  • Komunikasi non-verbal adalah setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang diberi makna oleh orang lain
  • Komunikasi non-verbal adalah studi mengenai ekspresi wajah, sentuhan, waktu, gerak isyarat, bau, perilaku mata dan lain-lain.
Perbedaan antara Komunikasi Verbal dan Non-Verbal
Secara sekilas telah diuraikan pada bagian awal tulisan ini, bahwa antara komunikasi verbal dan non-verbal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti kedua bahasa tersebut bekerja bersama-sama untuk menciptakan suatu makna. Namun, keduanya juga memiliki perbedaan-perbedaan.

Dalam pemikiran Don Stacks dkk. ada tiga perbedaan utama diantara keduanya yaitu kesengajaan pesan (the intentionality of the massage), tingkat simbolisme dalam tindakan atau pesan (the degree of symbolism in the act or message), dan mekanisme pemrosesan (processing mechanism).

Kesengajaan
Satu perbedaan utama antara komunikasi verbal dan non-verbal adalah persepsi mengenai niat (intent). Pada umumnya niat ini menjadi lebih penting ketika kita membicarakan lambang atau kode verbal.
Michael Burgoon dan Michael Ruffner menegaskan bahwa sebuah pesan verbal adalah komunikasi, kalau pesan tersebut :
  1. Dikirimkan oleh sumber dengan sengaja
  2. Diterima oleh penerima secara sengaja pula
Komunikasi non-verbal tidak banyak dibatasi oleh niat (intent) tersebut. Persepsi sederhana mengenai niat ini oleh seorang penerima sudah cukup dipertimbangkan menjadi komunikasi non-verbal. Sebab, komunikasi nonverbal cenderung kurang dilakukan dengan sengaja dan kurang halus apabila dibandingkan dengan komunikasi verbal. Selain itu, komunikasi non-verbal mengarah pada norma-norma yang berlaku, sementara niat atau intent tidak terdefinisikan dengan jelas. Misalnya, norma-norma untuk penampilan fisik. Kita semua berpakaian , namun beberapa sering kita dengan sengaja berpakaian untuk sebuah situasi tertentu? Beberapa kali seorang teman member komentar terhadap penampilan kita ? persepsi receiver mengenai niat ini sudah cukup untuk memenuhi persyaratan guna mendefinisikan komunikasi nonverbal.

Perbedaan-perbedaan Simbolik (Symbolic Differences)
Kadang-kadang niat (intent) ini dapat dipahami karena beberapa dampak simbolik dari komunikasi kita. Misalnya, memakai pakaian dengan warna atau model tertentu, mungkin akan dipahami sebagai suatu ‘pesan’ oleh orang lain (misalnya berpakaian dengan warna hitam akan diberi makna sebagai ungkapan ikut berduka cita).

Komunikasi verbal dengan sifat-sifatnya merupakan suatu bentuk komunikasi yang diantarai (mediated form of communication). Dalam arti kita mencoba mengambil kesimpulan terhadap makna apa yang diterapkan pada suatu pilihan kata. Kata-kata yang digunakan adalah abstraksi yang telah disepakati maknanya, sehingga komunikasi verbal bersifat intensional dan harus ‘dibagi’ diantara orang-orang yang terlibat dalam tindak komunikasi.

Sebaliknya, komunikasi non-verbal lebih alami, ia beroperasi sebagai norma dan perilaku yang didasarkan pada norma. Mehrabian menjelaskan bahwa komunikasi verbal dipandang lebih eksplisit dibanding bahasa non-verbal bersifat implicit. Artinya, isyarat-isyarat verbal dapat didefinisikan melalui sebuah kamus yang eksplisit dan lewat aturan-aturan sintaksis, namun hanya ada penjelasan yang samar-samar dan informal mengenai signifikansi beragam perilaku non-verbal.

Mengakhiri bahasan mengenai perbedaan simbolik ini, kita mencoba untuk melihat ketidaksamaan antara tanda (sign) dengan lambang (symbol). Tanda adalah sebuah representasi alami dari suatu kejadian atau tindakan. Ia adalah apa yang kita lihat atau rasakan. Sendangkan lambang mempresentasikan tanda melalui abstraksi.

Komunikasi verbal lebih spesifik dari bahasa non-verbal, dalam arti ia dapat dipakai untuk membedakan hal-hal yang sama dalam sebuah cara yang berubah-ubah, sedangkan bahasa kontroversi lebih mengarah pada reaksi-reaksi alami seperti perasaan atau emosi.

Mekanisme Pemprosesan
Perbedaan ketiga antara komunikasi verbal dan non-verbal berkaitan dengan bagaimana kita memproses informasi. Semua informasi termasuk komunikasi diproses melalui otak, kemudian otak kita tersebut menafsirkan informasi ini lewat pikiran yang berfungsi mengendalikan perilaku-perilaku fisiologis (refleks) dan sosilogis (perilaku yang dipelajari dan perilaku social).

Satu perbedaan utama dalam pemrosesan ada dalam tipe informasi pada setiap belahan otak. Secara tipikal, belahan otak sebelah kiri adalah tipe informasi yang lebih tidak berkesinambungan dan berubah-ubah, sementara belahan otak sebelah kanan, tipe informasinya lebih berkesinambungan dan alami.

Berdasarkan pada perbedaan tersebut, pesan-pesan verbal dan non-verbal berbeda dalam konteks struktur pesannya. Komunikasi non-verbal kurang terstruktur. Aturan-aturan yang ada ketika berkomunikasi secara non-verbal adalah lebih sederhana dibanding komunikasi verbal yang mempersyaratkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis. Komunikasi non-verbal secara tipikal diekspresikan pada saat tindak komunikasi berlangsung.

Tidak seperti komunikasi masa lalu atau komunikasi masa mendatang. Selain itu, komunikasi non-verbal mempersyaratkan sebuah pemahaman mengenai konteks dimana interaksi tersebut terjadi, sebaliknya komunikasi verbal justru menciptakan konteks tersebut.

Beberapa Pendekatan dalam Teori Komunikasi Non-verbal
Permulaan dari studi komunikasi non-verbal modern seringkali diidentifikasikan dengan karya Darwin, "The Expression of Emotions in Man and Animals". Perhatian Darwin terhadap komunikasi non-verbal terutama berkaitan dengan fungsinya sebagai sebuah teori untuk menjelaskan mengenai penampilan (theory of performance), sebuah cara berpidato yang mengindentifikasikan suasana hati, sikap atau perasaan.
Dari karya Darwin ini, perhatian komunikasi non-verbal telah memunculkan kajian antar disiplin. Dari hasil karyanya pula, telah dikembangkan tiga perspektif teoritis, yaitu the ethological approach (studi mengenai kesamaan-kesamaan antara perilaku manusia dengan perilaku binatang), the anthropological approach dan the functional approach.

Ethological Approach (Pendekatan Etologi)
Menurut Darwin, emosi manusia seperti halya emosi dari binatang dapat dilihat dari wajahnya. Darwin mengasumsikan bahwa komunikasi non-verbal dari makhluk hidup yang berbeda sebenarnya adalah sama. Orang-orang yang mendukung pandangannya seperti Morris, Ekman dan Friesen percaya bahwa ekspresi non-verbal pada budaya manapun esensinya sama, karena komunikasi non-verbal tidak dipelajari, ia adalah bagian alami dari keberadaan manusia. Dua contoh etologis yang sering disebut-sebut adalah senyuman dan ekspresi wajah yang dapat ditemukan pada kultur manapun juga.

Teori Struktur Kumulatif
Dalam teorinya ini, Ekman dan Friesen memfocuskan analisisnya pada makna yang diasosiasikannya dengan kinesic. Teori mereka disebut 'cumulative structure' atau ‘meaning centered’ karena lebih banyak membahas mengenai makna yang berkaitan dengan gerak tubuh dan ekspresi wajah ketimbang struktur perilaku. Mereka beranggapan bahwa seluruh komunikasi non-verbal merefleksikan dua hal: apakah suatu tindakan yang disengaja dan apakah tindakan harus menyertai pesan verbal.

Hal ini dapat dicontohkan pada kasus ketika seseorang menceritakan kepada gerak tangannya yang menunjukkan tinggi dan ekpresi wajah yang gembira. Gerak tangan yang menunjukkan tinggi ini tidak akan memiliki arti tanpa disertai ungkapan verbal, jadi tindakan ini disengaja dan memiliki makna tertentu. Lain halnya dengan wajah yang gembira, yang dapat berdiri sendiri dan dapat diartikan tanpa bantuan pesan verbal. Meskipun demikian, kedua tindakan tersebut telah manambahkan kepada makna yang berkaitan dengan interaksi antara kedua orang tersebut, dan ini oleh Ekman dan Friesen disebut sebagai ‘expressive behavior’.

Selanjutnya, Ekman dan Friesen mengidentifikasi lima kategori dari expressive behavior yaitu emblem, illustrator, regulator dan penggambaran perasaan, dimana masing-masing memberikan kedalaman pada makna yang berkaitan dengan situasi komunikasi.

Emblem adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang memiliki nilai sama dengan pesan verbal, yang disengaja, dan dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pesan verbal. Contohnya adalah setuju, pujian atau ucapan selamat jalan yang dapat digantikan dengan anggukan kepala, acungan jempol, atau lambaian tangan.

Illustrator adalah gerakan tubuh atau ekspresi wajah yang mendukung dan melengkapi pesan verbal. Misalnya raut muka yang serius ketika memberikan penjelasan untuk menunjukkan bahwa yang dibicarakan adalah persoalan serius, atau gerakan tangan yang menggambarkan sesuatu yang sedang dibicarakan.

Regulator adalah tindakan yang disengaja yang biasanya digunakan dalam percakapan, misalnya giliran berbicara. Bentuk-bentuk lain dari regulator dalam percakapan antara lain adalah senyuman, anggukan kepala, tangan yang menunjuk, mengangkat alis, orientasi tubuh, dan sebagainya, yang kesemuanya berperan dalam mengatur arus informasi pada suatu situasi percakapan.

Adaptor yaitu tindakan yang disengaja, yang digunakan untuk menyesuaikan tubuh dan menciptakan kenyamanan batu tubuh atau emosi. Terdapat dua subkategori dari adaptor, yaitu ‘self’ (seperti menggaruk kepala, menyentuh dagu atau hidung) dan ‘object (menggigit pensil, memainkan kunci). Perilaku ini biasanya dipandang sebagai refleksi kecemasan atau perilaku negatif.

Pengambaran emosi atau effect display yang dapat disengaja maupun tidak, dapat menyertai pesan verbal maupun berdiri sendiri. Menurut Ekman dan Friesen, terdapat tujuh bentuk affect display yang berbeda dapat diungkap secara bersamaan dan bentuk seperti ini disebut affect blend.

Teori Tindakan (Action Theory)
Morris juga mengemukakan suatu pandangan mengenai kinesic yang lebih didasarkan pada tindakan. Dia mengasumsikan bahwa perilaku tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan terbagi ke dalam suatu rangkaian panjang peristiwa yang terpisah-pisah. Menurutnya, terdapat lima kategori yang berbeda dalam tindakan yaitu;
  • Inborn (pembawaan) merupakan instink yang memiliki sejak lahir, seperti perilaku menyusu
  • Discovered (ditemukan), diperoleh secara sadar dan terbatas pada struktur genetic tubuh, seperti menyilangkan kak
  • Absorp (diserap), diperoleh secara tidak sadar melalui interaksi dengan orang lain (biasanya teman) seperti meniru ekspresi atau gerakan seseorang.
  • Trained (dilatih), diperoleh dengan belajar, seperti berjalan, mengetik, dan sebagainya.
  • Mixed (campuran), diperoleh melalui berbagai macam cara yang mencakup keempat hal di atas.

Anthropological Approach (Pendekatan Antropologi)
Pendekatan antropologis menganggap komunikasi non-verbal terpengaruh oleh kultur atau masyarakat, dan pendekatan ini diwakili oleh dua teori yang dikemukakan oleh Birdwhistell dan Edward T. Hall.

Analogi Lingustik
Dalam teorinya ini Birdwhistell mengasumsikan bahwa komunikasi non-verbal memiliki struktur yang sama dengan komunikasi verbal. Bahasa distrukturkan atas bunyi dan kombinasi bunyi yang membentuk apa yang disebut dengan kata. Kombinasi kata dalam suatu konteks akan membentuk kalimat, dan berikutnya kombinasi kalimat akan membentuk paragraph. Birdwhistell mengemukakan bahwa hal yang sama terjadi dalam konteks non-verbal, yaitu terdapat ‘bunyi non-verbal’ yang disebut allokines (suatu gerakan tubuh terkecil yang sering kali tidak dapat dideteksi). Kombinasi allokines akan membentuk kines dalam suatu bentuk yagn serupa dengan bahasa verbal, yang dalam teori ini disebut sebagai analogi linguistic.

Teori ini mendasarkan penjelasannya pada enam asumsi sebagai berikut:
  1. Terdapat tingkat saling ketergantungan yang tinggi antara kelima indera manusia, yang bersama-sama dengan ungkapan verbal akan membentuk ‘infracommunicational system’.
  2. Komunikasi kinesic berbeda antar kultur dan bahkan antara mikrokultur.
  3. Tidak ada symbol bahasa tubuh yang universal
  4. Prinsip-prinsip pengulangan tidak terdapat pada perilaku kinesic
  5. erilaku kinesic lebih primitif dan kurang terkendali dibanding komunikasi verbal
  6. Kita harus membandingkan tanda-tanda non-verbal secara berulang-ulang sebelum kita dapat memberikan interpretasi yang akurat
Keenam prinsip yang mendasari analogi linguistic ini pada dasarnya menyatakan bahwa kelima indera kita berinteraksi atau bekerja bersama-sama untuk menciptakan persepsi, dan dalam setiap situasi, satu atau lebih indera kita akan mendominasi indera lainnya. Menurut Birdwhistell, perilaku kinesic bersifat unik bagi tiap kultur atau sub-kultur, sehingga perbedaan individu dalam komunikasi nonverbal merupakan fungsi kultur atau subkultur di mana individu tersebut berada. Oleh karenanya, kultur harus diperhitungkan dalam studi tentang komunikasi non-verbal.

Prinsip ketiga menegaskan kembali bahwa perilaku non-verbal lebih banyak diperoleh sebagai hasil belajar daripada faktor genetik yang diturunkan antar generasi. Dia juga menganggap bahwa komunikasi non-verbal lebih bersifat melengkapi komunikasi verbal daripada mengulang atau menggantikannya yaitu keduanya bekerja bersama-sama dalam menghasilkan makna. Dan akhirnya, karena komunikasi non-verbal tidak selalu dilakukan secara sadar lebih bersifat primitive, kita cenderung melupakan apa yang kita katakan secara nonverbal.

Birdwhistell menjelaskan bahwa fenomena parakinesic (yaitu kombinasi gerakan yang dihubungkan dengan komunikasi verbal) dapat dipelajari melalui struktur gerakan. Struktur ini mencakup tiga factor yaitu; intensitas dari tegangan yang tampak dari otor, durasi dari gerakan yang tampak, dan luasnya gerakan. Dari factor-factor ini kita dapat menganalisis berbagai klasifikasi gerakan / perilaku yang meliputi allokine, kine, kineme.

Analogi Kultural
Analogi cultural yang dikemukakan oleh Edward T. Hall membahas komunikasi non-verbal dari aspek proxemics dan chronemics. Teori Hall mengenai proxemics mengacu kepada penggunaan ruang sebagai ekspresi specific dari kultur. Teori Hall mencakup batasan-batasan mengenai ruang yang disebutnya sebagai lingkungan, territorial, dan personal. Lebih lanjut dia mengemukakan adanya tiga jenis ruang masing-masing dengan norma dan ekspektasi yang berbeda, yaitu informal space, ruang terdekat yang mengitari kita (personal space), fixed feature space yaitu benda disekitar lingkungan dekat kita yang realatif sulit bergerak atau dipindahkan seperti rumah, tembok dan lain-lain. Semifixed-feature space yaitu barang-barang yang dapat dipindahkan yang berada dalam fixed-feature space.

Salah satu aspek terpenting dari teori Hall adalah kajiannya mengenai preferensi dalam personal space. Menurutnya, preferensi ruang seseorang ditentukan oleh tujuh faktor yang saling berkaitan yang tedapat dalam tiap kultur. Yang pertama adalah Jenis kelamin dan posisi dari setiap orang yang saling berinteraksi, yaitu lelaki atau perempuan dan apakah mereka duduk, berdiri dan sebagainya. Kedua, sudut pandang yang terbentuk oleh bahu dan dada/pungung dari orang yang berkomunikasi yang berada dalam jarak sentuhan (factor kinesthetic). Ketiga, sentuhan dan jenis sentuhan (factor zero-proxemic). Keempat, frekuensi dan cara-cara kontak mata (factor visual code). Kelima, persepsi tentang panas tubuh yang dapat dirasakan ketika berinteraksi (factor thermal code). Keenam, odor atau bau yang tercium ketika berinteraksi. Tujuh, kerasnya atau volume suara dalam interaksi.

Dalam analisisnya mengenai chronemics atau waktu sebagai salah satu tanda non-verbal, Hall mengemukakan bahwa norma-norma waktu ditentukan dalam berbagai kultur dalam bentuknya yang berbeda-beda. Waktu memiliki apa yang disebut dengan formal-time, informal-time, dan technical-time. Formal-time mencakup susunan dan siklus, memiliki nilai, memiliki durasi dan kedalaman. Informal time biasanya didefinisikan secara longgar dalam kultur, dan bekerja pada tataran psikologis dan sosiologis serta diungkapkan melalui individu atau kelompok.

Sosialisasi
Melalui cara sosialisasi masyarakat akan mengetahui peranan masing-masing dalam masyarakat, karenannya kita dapat bertingkah laku sesuai dengan peranan sosial masing-masing. Dalam usaha menjamin kelangsungan keadaan masyarakat yang tertib, disamping itu kita menjalankan proses-proses sosialisasi juga harus melaksanakan suatu usaha yang lainnya, yaitu usaha untuk melaksanakan kontrol sosial. Kontrol sosial adalah proses yang ditempuh dan semua sarana yang digunakan oleh masyarakat untuk membatasi kemungkinan terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan pelanggaran-pelanggaran norma sosial oleh individu-individu warga masyarakat.

Proses sosialisasi merupakan suatu proses yang amat besar signifikannya bagi kelangsungan keadaan tertib masyarakat. Artinya hanya hanya lewat proses-proses sosialisasi itu sajalah norma-norma social yang menjadi determinan segala kegiatan tertib social itu dapat diwariskan dn diteruskan dari generasi ke generasi (dengan ataupun tanpa perubahan. Tanpa mengalami proses sosialisasi yang memadai tidak mungkin seseorang warga masyarakat akan dapat hidup normal tanpa menjumpai kesulitan dalam masyarakat. Hanya lewat proses-proses sosialisasi ini sajalah generasi-generasi muda akan dapat belajar bagaimana seharusnya bertingkah pekerti didalam kondisi dan situasi-situasi tertentu.

Kesulitan-kesulitan yang cukup besar pasti akan menimpa setiap individu yang tidak berkesempatan mendapatkan sosialisasi yang memadai yang karenanya akan gagal didalam usaha-usahanya untuk menyesuaikan diri dangan nerma-norma sosial, khususnya dengan tingkah pekerti, tingkah pekerti orang lain di dalam masyarakat.

Bagi masyarakat sendiri, kegagalan-kegagalan demikian tentu saja akan dirasakan pula sebagai sesuatu hal yang amat menyulitkan dan pastikan akan mengganggu kelangsungan keadaan tertib masyarakat. Demikian sesungguhnya, sosialisasi harus dilaksanakan bukan hanya untuk kepentingan masyarakat saja, tetapi sekaligus dirasakan pula sebagai kepentingan warga masyarakat sendiri secara individu.

2 comments:

  1. asalammualaikum, mkasih buat infonya mba'..salam kenal dari saya M.R..saya mahasiswa komunikasi, izin berbagi info dari blognya mba'..

    ReplyDelete
  2. 80% Manusia menggunakan Komunikasi Verbal

    ReplyDelete